Bab al-wadī’ah (titipan) dalam Islam adalah pembahasan mengenai akad penyerahan harta tertentu dari pemiliknya kepada pihak lain untuk dijaga dan dipelihara secara sukarela, dengan janji bahwa harta tersebut akan dikembalikan secara utuh ketika diminta. Berdasarkan hadis yang ada di dalam kitab Bulughul Maram, penjaga titipan tidak wajib menanggung ganti rugi ketika terjadi kerusakan atau kehilangan harta yang telah dititipkan, selama orang yang dititipi harta tidak melakukan kelalaian, kesengajaan, atau penyalahgunaan. Namun, jika orang yang dititipi terbukti bersalah, seperti menggunakan barang titipan tanpa izin, menyimpannya di tempat yang tidak aman, atau menolak mengembalikan harta, maka ia wajib menanggung ganti rugi atas kesalahan yang terjadi. Akad titipan ini berakhir jika barang dikembalikan, atau jika salah satu pihak (pemilik atau orang yang dititipi) meninggal dunia.
Akad wadī’ah (الوديعة) adalah bab fikih muamalat yang mengatur tata cara perjanjian penitipan, di mana seseorang menyerahkan hartanya kepada orang lain, tujuannya untuk menjaga harta. Secara etimologi, wadī’ah berarti sesuatu yang ditinggalkan, sedangkan dalam terminologi syariat, wadī’ah merujuk pada penyerahan harta kepada seseorang yang dipercaya agar harta tersebut dijaga dan dipelihara secara sukarela tanpa adanya imbalan yang disyaratkan. Akad wadi’ah didasari oleh prinsip tolong-menolong dan menjaga harta sesama muslim.
Akad wadī’ah bersifat akad sukarela dan amanah. Ketika seseorang menerima titipan, ia secara hukum fikih disebut sebagai mustauda’ (penjaga titipan), dan ia diwajibkan untuk menjaga harta tersebut seperti ia menjaga hartanya sendiri, atau setidaknya menyimpannya di tempat yang dianggap aman. Menerima titipan adalah sunnah jika seseorang mampu menjaganya, sedangkan bagi pemilik harta, menitipkan harta menjadi wajib jika ia khawatir harta tersebut akan rusak atau hilang jika berada di tangannya sendiri.
Akad wadī’ah bersifat tidak mengikat, sehingga kedua belah pihak berhak mengakhiri perjanjian kapan saja. Akad wadī’ah berakhir ketika titipan dikembalikan kepada pemilik harta, atau jika salah satu pihak meninggal dunia. Di mana harta titipan harus diserahkan kepada ahli waris pemilik harta. Dan jika penjaga meninggal, harta tersebut diambil untuk dikembalikan kepada pemilik.
Hadis-hadis yang Berkaitan dengan Wadī’ah
Hadis pertama yang berhubungan dengan wadī’ah terdapat dalam salah satu riwayat, di mana Rasulullah memerintahkan kita untuk menunaikan amanah dan melarang kita berkhianat, walaupun kepada orang yang telah mengkhianati kita. Dalam salah satu hadisnya, Nabi bersabda;
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
Artinya, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah engkau berkhianat terhadap orang yang berkhianat kepadamu.” (HR Bukhari, Abu Daud, at-Tirmidzi at-Thabrani).
Dalam riwayat lain, Rasulullah menjanjikan surga bagi siapa saja yang menjaga enam hal dalam kehidupannya. Ketika para sahabat bertanya apa saja yang dimaksud dari enam hal tersebut, beliau menjawab bahwa salah satunya adalah jangan berkhianat ketika dipercaya. Dalam hadisnya, Nabi bersabda:
تَكَفَّلُوْا لِي سِتًّا أَتَكَفَّلُ لَكُمْ بِالْجَنَّةِ، قَالُوْا: وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: إِذَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَكْذِب، وَإِذَا وَعَدَ فَلَا يُخْلِفْ، وَإِذَا
اؤْتُمِنَ فَلَا يَخُنْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ
Artinya, “Berjanjilah kepadaku untuk menjaga enam hal, niscaya aku akan menjamin surga bagi kalian. Para sahabat bertanya, ‘Apa saja itu, wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Jika salah seorang di antara kalian berbicara, maka jangan berdusta; jika berjanji, maka jangan mengingkari; jika dipercaya, maka jangan berkhianat; tundukkanlah pandangan kalian; jagalah kemaluan kalian; dan tahanlah tangan kalian (dari berbuat kezaliman).” (HR Anas bin Malik).
Hadis yang berkaitan dengan wadī’ah juga Rasulullah tegaskan dalam salah satu riwayat, bahwa setiap tangan bertanggung jawab penuh atas apa yang diambilnya hingga ia mengembalikannya. Nabi bersabda:
عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَهُ
Artinya, “Tangan bertanggung jawab atas apa yang diambilnya hingga ia mengembalikannya.” (HR al-Baihaqi, an-Nasa’i, dan Ahmad).
Bahkan ketika Rasulullah mendapatkan perintah untuk hijrah ke Madinah, beliau tetap menjaga amanah yang telah dititipkan kepadanya. Sebelum berangkat, beliau menitipkan barang-barang titipan tersebut kepada Ummu Aiman. Selain itu, beliau juga menugaskan Ali bin Abi Thalib untuk tetap tinggal di Makkah sementara waktu guna mengembalikan titipan-titipan tersebut kepada pemiliknya.
وَقَدِ اسْتَوْدَعَ رَسُولُ اللَّهِ وَدَائِعَ الْقَوْمِ وَكَانَ يُسَمَّى فِي الْجَاهِلِيَّةِ لِقِيَامِهِ بِهَا مُحَمَّدًا الْأَمِينَ، فَلَمَّا أَرَادَ الْهِجْرَةَ إِلَى الْمَدِينَ تَرَكَهَا عِنْدَ أُمِّ أَيْمَنَ وَخَلَّفَ عَلِيًّا عَلَيْهِ
Artinya, “Rasulullah telah menerima titipan dari kaum Quraisy, dan sejak masa jahiliyah, beliau dikenal dengan sebutan Muhammad al-Amin (Muhammad yang terpercaya) karena selalu menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab. Ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah, Nabi meninggalkan barang-barang titipan tersebut kepada Ummu Aiman dan meninggalkan Ali bin Abi Thalib di Makkah (untuk mengembalikan titipan-titipan itu kepada pemiliknya).”
Secara keseluruhan, bab wadī’ah mengajarkan pentingnya menjaga kepercayaan, menetapkan standar keamanan yang harus dipenuhi oleh penjaga, dan memberikan batasan hukum yang adil mengenai kapan seseorang harus mengganti kerugian atas harta orang lain dan kapan ia dibebaskan dari kewajiban tersebut.















