[واعلم] أن المعصية تتضمن نقض العهد وتحليل عقد الود والايثار على المولى والطاعة الهوى وخلع جلباب الحياء والمبادرة للّٰه بما لايرضى
Ketahuilah sesungguhnya maksiat itu mengandung arti merusak janji, dan melepaskan ikatan cinta dengan mengalahkan Tuhannya (Alloh) dan mengikuti kesenangan hawa nafsunya, melepaskan tutupnya rasa malu, dan cepat cepat menuju Alloh dengan mengerjakan perkara yang tidak diridhoi oleh Alloh.
Penjelasan dari kalimat diatas yaitu, Maksiat pada hakikatnya bukan hanya sekadar perbuatan dosa, tetapi juga merupakan bentuk kerusakan terhadap janji seorang hamba kepada Allah. Ketika seseorang bermaksiat, itu berarti ia telah mengingkari komitmen yang pernah ia buat untuk taat dan menjauhi larangan Allah. Maksiat juga menggambarkan bahwa seseorang telah melepaskan ikatan cinta dengan Tuhannya, karena ia lebih memilih mengikuti hawa nafsu dan kesenangan sesaat dibandingkan ketaatan kepada Allah. Selain itu, maksiat menunjukkan bahwa rasa malu dalam dirinya telah memudar, padahal rasa malu adalah pelindung utama yang menjaga manusia dari keburukan. Lebih jauh lagi, manusia sebenarnya selalu berjalan menuju Allah setiap hari seiring bertambahnya usia, namun sangat disayangkan bila perjalanan itu diisi dengan perbuatan yang tidak diridloi-Nya. Dengan demikian, maksiat bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya.
مع في ذلك من آثار الظاهرة من ظهور الكدورة في أعضاء والجمود في العين والكسل في الخدمة وترك الحفظ للحرمة وظهور كسب الشهوات وذهاب بهجة الطاعات
Selain merusak hubungan dengan Allah, maksiat juga meninggalkan bekas yang tampak nyata pada diri pelakunya. Seseorang yang sering berbuat maksiat biasanya terlihat memiliki wajah yang suram dan tidak bercahaya, karena hatinya dipenuhi kegelapan. Tatapannya menjadi keras, mencerminkan hati yang mulai jauh dari kelembutan iman. Ia juga menjadi malas dalam beribadah dan berkhidmat kepada Allah, seolah kehilangan semangat untuk melakukan kebaikan. Selain itu, ia cenderung sulit menjaga kehormatan diri, karena maksiat melemahkan kontrol diri dan merusak rasa malu. Hidupnya banyak dihabiskan untuk mengejar keinginan hawa nafsu, sehingga ia bersungguh-sungguh dalam mengejar hal-hal yang tidak bermanfaat, tetapi justru lemah dalam menjalankan ketaatan. Bekas-bekas inilah yang menjadi tanda bahwa maksiat tidak hanya berdampak pada jiwa, tetapi juga pada perilaku dan penampilan seseorang.
وأما الاثار الباطنة فكالقساوة في القلب ومعاندة النفس وضيق الصدر بالشهوات وفقدان حلاوة الطاعات وترادف الأغيار المعانة من بروق شوارق الأنوار واستيلاء دولة الهوى إلى غير ذلك من ترادف الارتياب ونسيان المٱب وطول الحساب
Selain meninggalkan bekas yang tampak dari luar, maksiat juga memberi dampak batin yang jauh lebih berbahaya. Maksiat menyebabkan hati menjadi keras, sehingga nasihat, peringatan, dan ayat-ayat Allah tidak lagi menyentuh jiwa. Dada pun dipenuhi oleh syahwat dan keinginan duniawi, sampai-sampai ketaatan tidak lagi terasa manis atau menenangkan. Cahaya kebaikan sulit memancar dari diri seseorang karena banyaknya penghalang batin yang muncul akibat dosa. Ia juga menjadi mudah dikuasai oleh hawa nafsu sehingga lebih sering kalah dalam melawan hal-hal buruk. Selain itu, hati mulai dipenuhi keraguan, jauh dari keyakinan yang kuat (mamang). Pelaku maksiat juga sering lupa bahwa suatu saat ia pasti akan kembali menghadap Allah, sehingga hidupnya berjalan tanpa arah. Bahkan, ketika mengingat hari perhitungan amal, ia merasa cemas dan terbebani karena menyadari betapa panjang dan beratnya pertanggungjawaban yang harus dihadapi. Inilah dampak batiniah maksiat yang membuat seseorang semakin jauh dari ketenangan dan kedekatan dengan Tuhannya.
فإن كانت الذنوب منفتحة الأبواب في وجهك فاستغث باللّٰه والجأإليه وأحث التراب على رأسك وقل
اَللّٰهُمَّ انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَّةِ إِلَى عِزِّالطَّاعَةِ
Karena itu, apabila dosa telah tampak jelas di hadapanmu- baik dosa yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam hati- maka segeralah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Jangan menunda atau menunggu keadaan semakin buruk. Datanglah kepada-Nya dengan penuh kerendahan diri, merasa hina di hadapan-Nya sebagaimana seseorang yang menaburkan tanah di kepalanya sebagai tanda penghambaan dan penyesalan. Rendahkan hatimu, akui kelemahanmu, dan mintalah agar Allah menyelamatkanmu dari maksiat yang merendahkan harga diri seorang hamba. Berdoalah dengan sepenuh hati:
اَللّٰهُمَّ انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَّةِ إِلَى عِزِّالطَّاعَةِ
“Ya Allah, pindahkanlah kami dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan ketaatan kepada-Mu.” Doa ini merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu membalikkan hati, menguatkan jiwa, dan mengeluarkan seseorang dari gelapnya dosa menuju cahaya ketaatan.
وزر ضراىٔح الأولياء والصالحين وقل
يَا أَرْحَمَ الرَّا حِمِيْنَ.
Selain memohon pertolongan kepada Allah, berusahalah pula untuk berziarah ke makam para wali dan orang-orang saleh. Ziarah ini bukan untuk meminta sesuatu kepada mereka, tetapi sebagai sarana mengingat akhirat, melembutkan hati, serta mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang pilihan Allah yang telah Allah muliakan. Dengan mengunjungi makam mereka, seorang hamba diharapkan merasakan kembali ketenangan, kerendahan diri, dan dorongan untuk memperbaiki amal. Saat berziarah, disunnahkan memperbanyak doa, di antaranya membaca “Yaa Arhamar-Raahimiin”– “Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, sayangilah kami.” Dzikir ini menjadi permohonan agar Allah melimpahkan rahmat-Nya dan meneguhkan kita untuk kembali pada jalan ketaatan, sebagaimana para wali dan orang-orang saleh yang istiqamah dalam kebaikan.
Kontributor: Laeli Sagita








