Wahai hamba Allah, untuk kepentingan dirimu kamu memilih makanan yang lezatdan enak-enak, bahkan pada hewan ternakmu kau pilihkan makanan yang baik. Akan tetapi ketika kamu berhubungan dengan Allah (Ibadah) kau kerjakan dengan semaumu (asal mengerjakan), terkadang kau memilih-milih makanan hingga 20 macam dan hanya satu yang kau ambil, itu hanya untuk memenuhi isi toilet-mu.
Kamu duduk bersila, terkadang kau lama-lamakan dudukmu hanya untuk menikmati makananmu, tapi anehnya ketika kamu sholat, tingkahmu seperti ayam mematuk-matuk makanan (cepat sekali). Apalagi gangguan was-was, dan gerak hati yang tidak baik datang silih berganti dalam sholatmu. Tingkah yang seperti ini bagaikan orang yang berdiri di tempat saasaran panah. Dari segala arah dia bisa terkena tombak atau panah. Apakah orang seperti ini tidak dinamakan orang yang sangat bodoh?
Contoh lain ketika kamu mendengarkan hikmah, tapi kamu tidak mau mengamalkan kebijaksanaan tersebut, itu seperti halnya orang yang memakai baju perang, Akan tetapi tidak berangkat berperang.
Ingatlah, sungguh sudah ada undangan untuk mendatangi harta daganganku, apakah ada yang mau membeli? Sedangkan harganya adalah sesuatu yang dirimu disibukkan oleh sesuatu tersebut. Jadi apabila kamu disibukkan dengan perkara duniawi, kamu tidak ada harganya. Karena dunia itu ibarat bangkai yang tidak ada nilainya.
Permintaan hamba kepada Alloh paling utama adalah meminta supaya bisa tetap dalam taat kepada Allah swt. Allah Berfirman “Tunjukkan kami kepada jalan yang lurus”. Mintalah kepada Allah hidayah dan istiqamah. Istiqamah yaitu, kamu selalu bersama Allah dalam segala hal dan keadaan, dengan melaksanakan segala suatu yang menjadikan ridha Allah. Yaitu dengan menetapi apa yang dibawa oleh kanjeng nabi Muhammad saw. Dari Allah taala.
Perumpamaan seorang salik (orang yang berjala menuju Allah), itu seperti orang yang mencari air dan menggali tanah sedikit demi sedikit, sehingga menjadi sumur yang memancar air dari dalamnya. Sedang perumpamaan orang majdhub (orang yang ditarik langsung ke hadirat Tuhan), itu seperti orang yang membutuhkan air, lalu ada awan yang menurunkan hujan, sehingga dia bisa mengambil air untuk kebutuhannya tanpa kerepotan.
Apabila nafsumu kau beri makanan yang disukainya dan kau carikan apa yang menjadi kesenangannya, kamu itu seperti orang yang di dalam rumahnya ada ular yang setiap hari diberi makanan sehingga gemuk, sehingga bisa membunuh orang tersebut.
Seandainya Allah menjadikan dirimu ruh yang tanpa nafsu, tentu kamu akan menjadi orang yang taat tanpa maksiat. Sebaliknya jika Allah menjadikan kamu nafsu yang tanpa ruh, tentu kamu selalu maksiat tanpa taat. Maka dari itu Allah menjadikan kamu manusia yang ada hati, ruh, nafsu dan hawa. Seperti lebah madu, yang dijadikan oleh Allah ada sengat dan ada madunya. Maka dari itu lebah madu macam-macam, ada madunya yang bisa untuk menyembuhkan, dan ada sengat yang bisa membahayakan. Allah menghendaki kalahnya ajakan nafsu itu karena adanya hati. Dan kalahnya ajakan hati karena adanya nafsu.
Hai hamba Allah, Allah menuntut kamu untuk menjadi hamba-Nya. Akan tetapi kamu tidak mau malah sebaliknya. Menghadapmu kepada Allah, dengan cara menghaambamu hanya kepada Allah. Bagaimana Allah ridha kepadamu, sedangkan kamu beribadah menghamba kepada selain Allah. Diumpamakan kamu datang kepada-Ku dan mengharap pemberian-Ku, tentu kamu akan menghadap kepada-Ku. Lalu bagaimana kalau kamu menghadap kepada selain Aku.
Dunia itu berhenti dijalan akhirat, lalu dunia akan membelokkan dari akhirat. Dan akhirat itu berhenti dijalan menuju Allah, lalu akhirat akan mencegah dari wushul kepada Allah.
Sebagian dari belaskasih Allah kepadamu, apabila Allah membukakan aib-aibmu pada dirimu dan menutup aibmu dari manusia.
Ketika kamu diberi harta dunia, dan kamu tidak mau mensyukurinya, sesungguhnya harta itu ujian bagimu. Rasulullah saw. Bersabda, “sedikit dari dunia itu bisa melupakan dari jalan akhirat”.
Suatu hari ada istri dari salah satu ulama, berkata pada suaminya, “ aku sudah tidak sanggup selalu kau tinggal pergi dan kau disibukkan pada selain aku” lalu ada suara yang mengatakan: “kalau isterimu itu orang yang tidak membuat dan mewujudkan kamu saja, suka kalau hatimu selalu cinta padanya. Bagaimana Aku tidak suka kalau hatimu selalu mencintai Aku?”.
Kontributor: Qorri ‘Aina









