يا من عاش وما عاش، تخرج من الدنيا وما ذقت ألذ شيء فيها وهي مناجاة الحق سبحانه وتعالى ومخاطبته لك فأنت مُلقى جيفة بالليل. فإن دفعت عنه فاستغث بالله، وقل: يا ملائكة الله ويا رسول ربي، فاتتني الغنيمة التي نالوها من لذة المناجاة ووداد المصافاة
Artinya: Wahai engkau yang hidup namun belum benar-benar hidup. Engkau akan keluar dari dunia ini tanpa pernah merasakan sesuatu yang paling lezat di dalamnya, yaitu munajat (berbisik mesra) kepada Allah Yang Maha Benar dan percakapan-Nya kepadamu. Engkau bagai bangkai yang tergeletak di malam hari. Maka apabila engkau terhalang dari itu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan katakanlah: ‘Wahai para malaikat Allah, wahai utusan Tuhanku, sungguh aku telah kehilangan keuntungan besar yang telah diperoleh oleh orang-orang yang merasakan nikmatnya munajat dan kasih mesra dari Allah.’
Kalimat ini menggambarkan keadaan seseorang yang hidup secara lahiriah tetapi belum merasakan hakikat kehidupan yang sejati. Dalam pandangan tasawuf, hidup yang sesungguhnya bukan sekadar bernafas, bergerak, dan menjalani rutinitas, melainkan hidup yang disertai kedekatan hati dengan Allah. Karena itu seseorang yang tidak pernah merasakan manisnya munajat, tidak pernah menikmati ketenangan berdialog batin dengan Allah, dan tak pernah merasakan kehadiran-Nya, dianggap belum menyentuh inti kehidupan. Ia mungkin tampak hidup di mata manusia, namun hatinya belum hidup. Gambaran “berbaring di waktu malam seperti mayat” menunjukkan kondisi spiritual seseorang yang tidur dengan kelalaian total, tanpa zikir, tanpa rindu kepada Allah, dan tanpa dorongan hati untuk bangun menghadap-Nya. Namun ketika seseorang merasa jauh dan terhalang untuk mendekat kepada Allah, ia tidak boleh putus asa; ia dianjurkan untuk memohon pertolongan Allah dan mengakui ketidakmampuannya. Seruan seperti “Ya Malaikatallah, Ya Rasul Rabbî” adalah ungkapan kerendahan diri dari seorang hamba yang merasa tidak memiliki kekuatan apa-apa, yang berharap agar Allah membukakan kembali pintu kedekatan seperti yang dirasakan orang-orang yang telah diberi nikmat munajat dan kasih sayang-Nya.
Kalimat ini kemudian memberi peringatan keras tentang bahaya kesombongan dalam ibadah. Seorang hamba yang membanggakan amal taatnya untuk dipuji dan diagungkan manusia sebenarnya telah mencampuri amalnya dengan riya’ dan ujub. Terlebih lagi bila seseorang menuntut haknya dari sesama sementara ia sendiri enggan menunaikan hak orang lain, maka keadaan seperti ini menunjukkan kerusakan hati yang besar. Para ulama memandang perilaku demikian sebagai tanda yang dikhawatirkan dapat mengantarkan seseorang menuju su’ul khatimah, karena kesombongan dalam ibadah lebih merusak daripada maksiat yang disertai penyesalan. Sebaliknya, tulisan itu menegaskan bahwa orang yang melakukan maksiat kemudian merasakan penyesalan mendalam, menangisi dosanya, merasa hina di hadapan Allah, dan rela merendahkan diri untuk mendekat kepada orang-orang shalih sambil mengakui kekurangannya, justru berada dalam keadaan yang lebih selamat. Sikap merendah, menangis, dan mengakui dosa merupakan tanda lembutnya hati, dan hati yang lembut lebih dekat kepada rahmat Allah daripada hati yang sombong meski penuh amal. Itulah sebabnya orang seperti itu sangat diharapkan mendapatkan husnul khatimah, karena ia kembali kepada Allah dengan kejujuran, ketulusan, dan kesadaran akan kelemahan dirinya. Tulisan ini pada akhirnya mengajarkan bahwa hakikat kehidupan adalah hidupnya hati; bahwa amal tanpa keikhlasan dapat menjerumuskan; dan bahwa taubat yang jujur, meskipun lahir dari dosa, dapat menjadi jalan menuju keselamatan akhir.
Kontributor: Maulida Apriliyani












