Di balik hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, ada peperangan abadi yang terjadi di dalam diri kita: perang antara ketaatan dan maksiat. Maksiat atau durhaka sejatinya bukan hanya sekadar tindakan melanggar hukum, melainkan sebuah aksi pengkhianatan spiritual yang merusak janji kita dengan Sang Pencipta. Ini adalah momen ketika kita memilih untuk mengalahkan Tuannya (Allah) demi mengikuti bisikan kenikmatan hawa nafsu sesaat. maksiat meninggalkan bekas yang nyata: raut wajah menjadi suram, pandangan mata terasa keras, dan tubuh diliputi kemalasan untuk beribadah. Seluruh energi kita terfokus pada memuaskan diri, sehingga kehormatan diri terasa sulit dipertahankan dan segala bentuk ketaatan terasa berat untuk dilaksanakan.
Maksiat menciptakan bekas yang batin: hati menjadi keras membatu, dada dipenuhi syahwat, dan yang terpenting, hilangnya rasa taat dan nikmat dalam ketaatan. Akibatnya, kita dikalahkan oleh hawa nafsu, hati selalu diliputi keraguan, dan melupakan hakikat bahwa kita akan kembali menghadap Allah dengan pertanggungjawaban yang sangat lama. Maksiat mengubah identitas dan kedudukan kita. Saat taat, kita adalah orang yang berbuat kebaikan. Saat durhaka, kita adalah orang yang rusak di hadapan-Nya. Kenikmatan yang sejati digantikan oleh nikmatnya syahwat yang semu. Bahkan sifat baik yang telah kita miliki pun perlahan diganti menjadi sifat buruk. Kedudukan mulia sebagai hamba yang sholih bergeser menjadi status ingkar dan khianat.
Hati itu seperti pohon yang disirami dengan ketaatan. Jika pohon hati itu subur, maka anggota tubuh kita akan menghasilkan buah kebaikan: mata mengambil pelajaran (i’tibar), telinga mendengar Al-Qur’an, mulut berdzikir, dan tangan serta kaki melangkah menuju kebaikan. Namun, jika hati kering akibat lalai dan maksiat, maka buah-buah ketaatan itu akan rontok seketika. Lantas, bagaimana cara menyiramnya? Perbanyaklah dzikir kepada Allah. Kita tidak bisa menunggu sampai “obatnya datang”; kita harus segera berobat. Demikian pula, dalam jihad melawan diri sendiri (jihad akbar), tidak ada rasa manis yang instan, hanya perjuangan di ujung tombak. Kita harus menghindari kebodohan fatal: yaitu mengklaim ingin memerangi nafsu, tetapi di saat yang sama, memberi makanan enak (syahwat) hingga nafsu kita menjadi kuat dan akhirnya mengalahkan kita.
Seorang ulama pernah mendapati jawaban mendalam dari seorang pendeta mengenai hari raya. Hari raya sejati, kata pendeta itu, bukanlah hari perayaan duniawi, melainkan hari ketika seseorang mendapat ampunan dari Tuhannya. Inilah kemenangan sesungguhnya kemenangan bagi jiwa yang berhasil mengumpulkan masalah yang berbeda-beda dan mengalahkan nafsunya.Sungguh mengherankan, kita begitu cerdas mencari perkara yang mendatangkan kebaikan duniawi, tetapi begitu bodoh terhadap perkara yang mendatangkan kebaikan akhirat. Kita gigih menimbun bahan makanan untuk masa depan yang dibutuhkan, tetapi justru menimbun syahwat (ular) dan maksiat (kalajengking) yang pasti akan membinasakan diri sendiri.
Untuk keluar dari kehinaan ini, jalan satu-satunya adalah segera memohon pertolongan Allah. Sambil merasa hina di hadapan-Nya, kita harus berdoa: “Ya Allah, pindahlah kami dari hinanya maksiat menuju kemuliaan taat kepada-Mu.” Kuatkanlah tekad ini dengan berziarah ke makam para Auliya’ dan Shalihin, serta memperbanyak lantunan zikir “Yaa Arhamar-roohimiin.”
Kontributor: Safana Bilbina Suhaela










