أيها العبد، اطلب التوبة من الله في كل وقت، فإن الله تعالى قد يديك إليها، فقال تعالى: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)، وقال تعالى: (إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ)، وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إني ليغان على قلبي، وإني لأستغفر الله في اليوم سبعين مرة
“Wahai hamba, mintalah selalu ampunan dan taubat kepada Allah setiap waktu, karena boleh jadi Allah akan memberimu taufik untuk bertaubat. Allah Ta‘ala berfirman: ‘Bertobatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.’ Dan Allah Ta‘ala juga berfirman: ‘Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya hatiku kadang tertutup oleh sesuatu (seperti kabut tipis), dan aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali”
Kalimat di atas berisi ajakan spiritual yang sangat kuat kepada setiap hamba agar senantiasa memohon ampun dan bertaubat kepada Allah dalam setiap keadaan. Kalimat “Wahai hamba, mintalah selalu ampunan dan taubat kepada Allah setiap waktu” menegaskan bahwa taubat bukanlah amalan sesaat, melainkan kebutuhan hidup manusia karena manusia tidak pernah lepas dari kekurangan, kesalahan, dan kelemahan. Seruan ini menunjukkan bahwa Allah-lah yang memberi kemampuan kepada seseorang untuk bertaubat; jika Allah membukakan pintu taubat, itu adalah bentuk kasih sayang dan hidayah-Nya. Ayat Al-Qur’an yang dikutip memperkuat hal tersebut. Firman Allah, “Bertobatlah kalian semuanya kepada Allah agar kalian beruntung,” mengajarkan bahwa keberuntungan sejati tidak terletak pada harta atau kedudukan, melainkan pada kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Firman berikutnya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci,” menunjukkan bahwa taubat bukan sekadar kewajiban, tetapi sesuatu yang mendatangkan cinta Allah. Jika Allah mencintai hamba-Nya, maka seluruh kebaikan dunia dan akhirat menghampirinya.
Penutup teks tersebut berupa hadis Rasulullah ﷺ yang menyatakan, “Sesungguhnya hatiku kadang tertutup oleh sesuatu, dan aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari tujuh puluh kali.” Ini adalah pelajaran penting bagi umat. Jika Nabi Muhammad ﷺ—manusia paling suci dan ma‘shum—masih merasa perlu sering beristighfar, maka manusia biasa tentu jauh lebih membutuhkan taubat dan istighfar. Ungkapan “tertutup oleh sesuatu” bukan berarti Nabi berdosa, tetapi menunjukkan tingkat kehalusan ruhani beliau; sedikit saja kondisi hati yang tidak berada pada puncak kesempurnaan sudah dianggap sebagai sesuatu yang perlu dibersihkan dengan istighfar. Dengan demikian, teks ini menunjukkan bahwa taubat adalah amalan yang harus menjadi kebiasaan harian, bukan hanya ketika melakukan dosa besar. Taubat menjaga hati tetap hidup, lembut, dan dekat dengan Allah; dan istighfar yang terus-menerus adalah tanda kerendahan diri serta pengakuan akan ketergantungan total kepada Tuhan. Kulminasinya adalah pemahaman bahwa kedekatan dengan Allah selalu mengalir melalui pintu taubat, karena Allah mencintai hamba yang terus kembali kepada-Nya.
Kontributor: Alya Salsabila














