• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Minggu, Mei 17, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Tajul Arus: Iman dan Menyembunyikan amal

Ibnu Athaillah as sakandari

M. Zahri Johan by M. Zahri Johan
Desember 17, 2025
in Akhlak, Pengetahuan Islam
Tajul Arus : Taubat

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Tajul Arus: Bekas Maksiat

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0

الإيمان كالشجرة الخضراء (Iman Seperti Pohon Hijau)

مثال الإيمان في القلب كالشجرة الخضراء، فإذا كثرت عليها المجاري تبست وفرع أمادها، فليس أحد أتم القام بالواجبات فليكن المحرمات، ومن ترك المكرهات أعين على تحصيل الجمرات، ومن ترك المباحات ومع عليه تسعة لا يسعفه عقله، وأباح له حضره، ومن ترك استماع ما حرم عليه فلكلمه، ولكن ما أهون الغربة التي فيها نفسك عليك، وما أقل ما يثني فيه، فهوي بمثاله أن تجعل نفلك فإن قبل لك: تصدق بذلك، فلم يكن عليك لأن أمر الحج يرى، فللبنيس في حظ، والصدقة، وطوى ونسي

Terjemahan: “Perumpamaan iman di dalam hati seperti pohon hijau. Jika terlalu banyak aliran air (mengalir) ke atasnya, ia akan layu dan ranting-rantingnya akan mati. Tidak ada seorang pun yang lebih sempurna dalam menjalankan kewajiban daripada orang yang meninggalkan larangan-larangan. Barangsiapa meninggalkan hal-hal yang dibenci (makruh), maka ia akan lebih mudah mencapai kebaikan-kebaikan (wajib). Dan barangsiapa meninggalkan hal-hal yang mubah (boleh), meskipun tidak wajib, maka ia tidak akan mampu menyelesaikannya dengan akalnya sendiri, karena Allah telah mengizinkannya. Dan barangsiapa meninggalkan mendengarkan hal-hal yang diharamkan, maka ia akan berbicara kepadanya (Allah). Namun, betapa rendahnya rasa asing yang dialami oleh jiwamu saat berada bersamamu sendiri. Betapa sedikitnya pujian yang diberikan kepadanya. Maka, contohnya adalah: Jadikanlah jiwa mu sebagai penerima (dari ujian ini). Jika ia menerima, maka percayalah akan hal itu. Tidak ada kewajiban bagimu untuk melakukan haji, karena itu adalah hak para pelaku ibadah haji. Untuk orang yang belum berhaji, amal shalih seperti sedekah, membaca doa, dan melupakan dosa-dosa adalah cukup.”

وكذلك غرس العلم لغير الله، فإنك تدرس الليل ونهضك ونفسك فلية بذلك، فإذا قلت لك: صل بالليل، ركعتين، شق ذلك عليك لأنك لا تملك الركعتين فليك بين الله وبين نفسك، فلأجل ذلك خفف عليهم حظ مشاركة للناس، فما تقيت نفسك إلى الرواح إلى إحرام قيد مشيق وخرج منه يعل من ذهب مكل بالولو فقيل لي: هذا نعليها فكيف وجهها؟ فانتظرت شهرة النكاح من قلبي.

Terjemahan:“Demikian pula menanam ilmu untuk selain Allah kamu belajar sepanjang malam, mengorbankan waktu istirahatmu dan tenagamu untuk itu. Lalu aku katakan kepadamu: ‘Shalat malam dua rakaat!’ Kamu merasa berat melakukannya, karena kamu tidak memiliki dua rakaat itu untuk Allah. Antara kamu dan Allah, kamu lebih memilih dirimu sendiri. Karena itu, Allah meringankan bagimu beban berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Kamu tidak mampu mengarahkan jiwamu ke arah ibadah yang sebenarnya seperti ihram yang sempit (sulit dilaksanakan). Kamu keluar dari ibadah itu tanpa keberhasilan. Saya ditanya: ‘Apa yang membuatmu begitu?’ Saya menjawab: ‘Ini karena aku masih mengharapkan pujian manusia, bukan ridha Allah. Aku masih menanti kebanggaan dari pernikahan (dunia), bukan dari ibadah.’”

Resume keseluruhan hadis: Di hati setiap mukmin tumbuh iman seperti pohon hijau yang hidup, subur, dan memberi manfaat. Tapi pohon itu butuh perawatan seimbang: cukup air, tapi tak berlebihan. “Air” di sini adalah kesibukan dunia, hiburan, bahkan hal-hal mubah. Jika terlalu banyak, akarnya busuk, daunnya layu dan iman pun melemah tanpa disadari. Jalan pertama menjaga iman adalah menjauhi yang haram. Tak ada ibadah sempurna selama hati masih memelihara dosa. Setelah itu, tahap lebih halus: meninggalkan yang makruh, melatih hati agar peka pada apa yang dicintai Allah, bukan hanya pada apa yang “boleh”. Lebih tinggi lagi adalah meninggalkan yang mubah demi Allah yaitu dengan mengurangi makan, tidur, atau bicara yang tak perlu, bukan karena larangan, tapi karena cinta. Inilah tanda hati yang telah melampaui logika duniawi. Orang yang menjaga pendengaran dan pandangannya dari yang haram akan merasakan Allah “berbicara” kepadanya melalui ilham, ketenangan, dan petunjuk batin. Meski di tengah jalan ia merasa asing dan sendiri, justru di sanalah ujian sejati: tetap setia pada Allah, meski tak seorang pun memuji. Pada Bab ini Imam Al-Ghazali mengingatkan supaya tak perlu bersedih jika belum mampu ibadah besar. Sedekah kecil, doa khusyuk, dan taubat tulus sudah cukup karena Allah melihat kemurnian hati, bukan sekadar bentuk amal.

إخفاء الأعمال (Menyembunyikan Amalan)

مِنْ هُبِتَ لَهُ المَنَازِلُ لَمْ يُرْضِهِ بِالقُعُودِ عَلَى المَزَابِلِ

Terjemahan: Barangsiapa yang diberi tempat tinggal di surga, maka ia tidak akan ridha duduk di atas sampah. 

Makna: Ini menggambarkan bahwa orang yang telah dianugerahi kedudukan mulia di sisi Allah (dalam surga) akan merasa malu dan tidak rela jika amalannya yang baik diketahui oleh orang lain, seolah-olah ia “duduk di atas sampah” atau memamerkan diri.

الله مِيراً وَلا يُطْلِعُ عَلَيْهِ أَهْلَكَ، وَاجْعَلْهُ مَدْخَراً عِندَ اللهِ تَجِدُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَإِنَّ النَّفْسَ لَهَا تَمْتَعُ

 

Terjemahan: Allah adalah penjaga rahasia, janganlah engkau memberitahukan amalanmu kepada keluargamu, jadikanlah ia sebagai simpanan di sisi Allah, niscaya engkau akan menemukannya pada hari kiamat, karena sesungguhnya jiwa itu menyenangi pujian.

Makna: Ayat ini menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan amal ibadah. Allah adalah satu-satunya yang mengetahui segala sesuatu. Jika kita memperlihatkan amal baik kita, maka kita berisiko melakukan riya’ (pamer) karena dorongan jiwa yang menyukai pujian dan pengakuan dari orang lain. Dengan menyembunyikannya, amal tersebut menjadi simpanan yang akan kita dapatkan balasannya di akhirat.

بِذِكْرِ الْعَمَلِ صَامَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَلَمْ يَعْلَمْ بِهِ أَهْلُهُ

Terjemahan: Karena menyebut-nyebut amalnya, seorang lelaki berpuasa selama empat puluh tahun, namun keluarganya tidak mengetahuinya.

Makna: Ini menunjukkan tingkat kesempurnaan seseorang dalam menyembunyikan amalnya. Meskipun berpuasa selama waktu yang sangat lama (40 tahun), ia berhasil menjaganya agar tidak diketahui oleh orang terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya. Ini menunjukkan betapa kuatnya tekadnya untuk ikhlas hanya karena Allah.

لا تَتَفَقَّهْ أَنْفَاسَكَ فِي غَيْرِ طَاعَةِ اللهِ، وَلا تَنْظُرْ إِلَى صَغِيرِ النَّفْسِ بِلِ انْظُرْ إِلَى مِقْدَارِهِ وَإِلَى مَا

يُعْطِي الله العبد، فَلَا نَفَاسَ جَوَاهِرُ، وَهَلْ رَأَيْتَ أَحَدًا يَرْي جَوْهَرَةً عَلَى مِزْيَلَةٍ؟ أَفْتَصْلَحْ ظَاهِرُكَ

Terjemahan: Janganlah engkau memperhatikan nafasmu kecuali dalam ketaatan kepada Allah, dan janganlah engkau melihat kepada hal-hal kecil dari jiwa (nafsu) itu, tetapi lihatlah ukurannya dan apa yang Allah memberi hamba-Nya, maka tidak ada nafas yang sia-sia, dan pernahkah engkau melihat seseorang meletakkan permata di atas sampah? Maka apakah akan baik tampak luarmu?

Makna: Bagian ini mengingatkan kita untuk fokus pada ketaatan kepada Allah dalam setiap helaan nafas kita. Ia juga menyarankan agar kita tidak terlalu memperhatikan keinginan-keinginan kecil dari nafsu kita, tetapi lebih memperhatikan skala dan dampak dari keinginan tersebut terhadap kehidupan spiritual kita. Setiap nafas yang diberikan Allah kepada hamba-Nya memiliki nilai dan tujuan, tidak ada yang sia-sia. Analogi dengan meletakkan permata (yang berharga) di atas sampah (yang rendah) digunakan untuk menegaskan bahwa amal baik yang berharga tidak pantas ditampilkan secara terbuka (seperti sampah) untuk mendapatkan pujian dunia. Pertanyaan retoris “Apakah akan baik tampak luarmu?” mengingatkan bahwa tindakan seperti itu akan merusak kebaikan amal tersebut.

وَتُفْسِدْ بِاطِنَكَ؟ فَمَاذَا كَالْمَجْذُومِ لَيْسَ بِيَاباً جَدِيدَةً، وَيُخْرِجْ مِنْهُ فِي البَاطِنِ القِيحُ وَالصَّدِيدُ،فَأَنتَ تُصْلِحُ مَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ النَّاسُ وَلَا تُصْلِحْ قَلْبَكَ الَّذِي هُوَ لِرَبِّكَ

Terjemahan: Dan apakah engkau akan merusak batinmu? Maka, apa bedanya dengan leprosi (kusta)? Ia bukanlah luka baru, tetapi ia mengeluarkan nanah dan lendir dari dalam (batin). Maka, engkau memperbaiki apa yang dilihat oleh manusia, tetapi engkau tidak memperbaiki hatimu yang sebenarnya milik Tuhanmu.

Makna: Ini adalah peringatan keras. Memamerkan amal (riya’) bukan hanya merusak “tampak luar” (sifat ikhlas), tetapi juga merusak “batin” (hati dan niat). Seperti penyakit kusta yang tampaknya mungkin tidak parah dari luar, tapi di dalamnya terdapat nanah dan lendir yang busuk, demikian pula riya’ yang tampaknya “tidak apa-apa” bisa merusak hati dan membuat amal menjadi tidak diterima oleh Allah. Ini adalah inti dari masalah riya’. Orang yang riya’ hanya peduli pada penampilan luar yang disukai orang lain, sementara ia mengabaikan perbaikan hati dan niat yang seharusnya menjadi fokus utama karena hati adalah milik Allah. Amal yang dilakukan hanya untuk dilihat orang lain tidak akan diterima oleh Allah.

 

Kontributor: Azizah Nailul Husna

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0
Tags: amalIbnu AthaillahImanTajul Arus
Previous Post

Tajul Arus : Taubat

Next Post

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

M. Zahri Johan

M. Zahri Johan

M. Zahri Johan #Aktivitas a. Ketua Ponpes Progresif Fathimah al-Amin b. Guru MAN 2 Kota Semarang c. Pengasuh kawanislam.com # Motto Karakter adalah dasar prestasi

Related Posts

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman
Islam dan Sains

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Maret 17, 2026
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Mudharat Maksiat

Desember 18, 2025
Jaminan Surga di Balik Sebuah Titipan: Mengupas Keutamaan Akad Wadī’ah
Qur'an & Hadits

Separuh Iman yang Sering Terlupakan: Mengapa Bersuci Bukan Hanya Soal Fisik?

Desember 17, 2025
Please login to join discussion

Recommended

Etika Ber-Pilpres

Etika Ber-Pilpres

Juni 3, 2020

MAN 02 Kota Semarang Juarai Torpedo Futsal Jateng & DIY

Oktober 30, 2018

Don't miss it

Peningkatan Lifeskill dan Pembentukan Karakter Menjadi Salah Satu Tujuan Masa Ta’aruf Santri Fathimah Al-Amin (MATSAFA) 2025
Acara

Peningkatan Lifeskill dan Pembentukan Karakter Menjadi Salah Satu Tujuan Masa Ta’aruf Santri Fathimah Al-Amin (MATSAFA) 2025

Agustus 26, 2025
Reformasi 2: Modernisme Sekuler
Pengetahuan Islam

Reformasi 2: Modernisme Sekuler

Juni 4, 2020
Jujur pada Diri Sendiri Itu Berat, Ini Caranya Agar Mudah
Akhlak

Jujur pada Diri Sendiri Itu Berat, Ini Caranya Agar Mudah

Juni 3, 2020
Ikhwanul Muslimin di Indonesia
Pengetahuan Islam

Ikhwanul Muslimin di Indonesia

Juni 3, 2020
Kiriman Pembaca

PAEDOFIL MENGANCAM ANAK-ANAK INDONESIA

November 2, 2018
Rintangan Menulis? Yuk Simak Cara Mengatasinya
Kiriman Pembaca

Rintangan Menulis? Yuk Simak Cara Mengatasinya

Desember 4, 2024

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Kesabaran kesetaraan gender kisah sufi Man 2 Semarang maulid nabi Maulud Nabi Ibrahim nafs NKRI pendidikan karakter Rohis sains Sains islam santriprogresif Sejarah sejarah islam sholat khusyu' sirah Nabawi siroh solusi spiritualitas beragama sufi tafsir Tajul Arus Taqwa tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Dari Bandeng hingga Branding, Pengabdian Masyarakat FSM UNDIP Bekali 50 Santri Fathimah Al-Amin Skill Wirausaha

Dari Bandeng hingga Branding, Pengabdian Masyarakat FSM UNDIP Bekali 50 Santri Fathimah Al-Amin Skill Wirausaha

April 28, 2026
Rajut Silaturahmi, Eratkan Ukhuwah: Jamaah Haji SOC 16 Gelar Halal Bihalal di Fathimah Al-Amin

Rajut Silaturahmi, Eratkan Ukhuwah: Jamaah Haji SOC 16 Gelar Halal Bihalal di Fathimah Al-Amin

April 16, 2026

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tajul Arus : Taubat

Tajul Arus: Iman dan Menyembunyikan amal

 
Tajul Arus: Bahaya Maksiat
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend