Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin kembali menyelenggarakan kegiatan pembinaan spiritual melalui Pelatihan Sholat Khusyuk sesi terakhir pada Ahad, 8 Maret 2026, bertempat di Aula Dwi Purwito. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ust. Syariful Anam, M.S.I., dan diikuti oleh 61 peserta yang terdiri dari santri serta masyarakat umum.
Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program yang bertujuan memperdalam pemahaman peserta tentang makna sholat, tidak hanya sebagai rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi juga sebagai ruang munajat dan perjumpaan spiritual antara hamba dengan Allah SWT.
Dalam pemaparannya, Ust. Syariful Anam, M.S.I., menjelaskan bahwa sholat pada hakikatnya merupakan liqa’, yakni perjumpaan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, sholat tidak sekadar dipahami sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai komunikasi batin yang menghadirkan kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
“Setiap bacaan dalam sholat merupakan bentuk dialog antara hamba dan Allah. Ketika seorang hamba mengucapkan tahmid, Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’,” jelasnya di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa unsur penting dalam mencapai kualitas sholat yang khusyuk sebagaimana dijelaskan dalam literatur tasawuf. Pertama adalah ḥuḍūr al-qalb (hudhurul qalbi), yakni hadirnya hati dalam ibadah sehingga mampu mengangkat berbagai ḥijab atau penghalang spiritual. Semakin sedikit hijab yang menutup hati, semakin dekat seorang hamba dengan Allah SWT.
Kedua adalah shuhūd al-‘aql (shuhudul aqli), yaitu kesadaran akal dalam memahami makna bacaan sholat sehingga ibadah mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Ketiga adalah ḥuḍūr al-nafs (hudurun nafsu), yaitu kemampuan menundukkan hawa nafsu serta mengarahkan seluruh diri kepada Allah SWT. Adapun yang terakhir adalah ḥuḍūr al-arkān (hudurul arkan), yakni ketenangan anggota badan sehingga hati, pandangan, dan gerakan tubuh dapat sepenuhnya fokus dalam ibadah.
Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, narasumber juga menjelaskan beberapa unsur yang dapat menghidupkan sholat. Di antaranya ḥuḍūr al-qalb (kehadiran hati), tafahhum (memahami makna bacaan), ta‘ẓīm (mengagungkan Allah), haybah (rasa takut dan hormat kepada-Nya), rajā’ (harapan terhadap rahmat Allah), serta ḥayā’ (rasa malu karena merasa belum mampu menjalankan ibadah secara sempurna). Nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting agar sholat tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar menjadi sarana penyucian jiwa.
Di akhir pemaparannya, Ust. Syariful Anam, M.S.I., menekankan bahwa sholat yang khusyuk akan melahirkan berbagai buah spiritual, di antaranya ketenangan jiwa, kedekatan dengan Allah, serta kemampuan menjauhkan diri dari perbuatan yang menyimpang. Sholat yang dijalankan dengan penuh kesadaran juga menjadi sarana taubat yang mengantarkan seorang hamba pada ampunan dan rahmat Allah SWT.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin, KH Muhammad Zahri Johan, M.Pd., yang turut hadir memberikan motivasi kepada para peserta. Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mengikuti pelatihan tersebut sebagai bentuk kesadaran untuk terus memperbaiki kualitas ibadah.
Selain diikuti oleh santri internal pesantren, pelatihan ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin memperdalam pemahaman tentang makna sholat. Kehadiran peserta dari berbagai kalangan turut memperkaya suasana diskusi dan pembelajaran selama kegiatan berlangsung.
Sesi ketiga pelatihan ini kemudian ditutup dengan doa bersama dan refleksi atas materi yang telah disampaikan. Para peserta diharapkan dapat mengamalkan pemahaman yang diperoleh sehingga sholat tidak hanya menjadi kewajiban yang ditunaikan, tetapi juga menjadi ruang liqa’ yang menghadirkan ketenangan dan kedekatan dengan Allah SWT.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin terus berupaya menghadirkan ruang pembinaan spiritual yang terbuka bagi masyarakat. Pelatihan Sholat Khusyuk diharapkan dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran beribadah yang lebih mendalam sekaligus memperkuat karakter spiritual generasi muslim.















