Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin Semarang menyelenggarakan kegiatan Khotmil Qur’an dan pembacaan Arwah Jama’ dalam rangka memperingati haul pendiri pesantren, Prof. Dr. KH. Amin Syukur, M.A. dan Dra. Hj. Fathimah Utsman, M.S.I.. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 di Aula Dwi Purwito. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri, baik dari program tahfidz maupun reguler, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pembinaan spiritual.
Dalam rangkaian kegiatan ini, tercatat tiga kali khataman Al-Qur’an, yaitu dua kali khataman bin nadzor oleh santri reguler melalui tadarus selepas sholat Maghrib, serta satu kali khataman bil ghaib oleh santri tahfidz pada hari pelaksanaan. Sejak pukul 08.00 WIB, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema khidmat, dibaca secara bergantian hingga menjelang siang. Kesungguhan dan ketekunan para santri dalam mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an menjadi gambaran nyata kecintaan mereka terhadap Kalamullah.
Memasuki sore hari menjelang waktu berbuka puasa, seluruh santri berkumpul untuk mengikuti pembacaan tahlil dan arwah jama’. Doa dipanjatkan bersama sebagai bentuk penghormatan dan bakti kepada para pendiri pesantren, sekaligus ditujukan bagi seluruh kaum muslimin yang telah wafat. Suasana haru dan kekhusyukan terasa menyelimuti seluruh peserta yang larut dalam doa dan dzikir.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama, yang semakin mempererat kebersamaan antar santri dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan. Momen ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga sarana memperkuat nilai-nilai ukhuwah Islamiyah di lingkungan pesantren.
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi momen perpisahan yang penuh makna dengan Ustadzah Nabila Nailun Najah, yang selama ini telah mengabdi dan berdedikasi dalam membimbing para santri tahfidz menghafal Al-Qur’an. Rasa haru dan terima kasih mengiringi kebersamaan tersebut, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi beliau dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an.
Sebagai bagian dari rangkaian haul, kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para tokoh pendiri, tetapi juga menjadi sarana pembinaan spiritual bagi para santri. Melalui interaksi yang intens dengan Al-Qur’an dan doa, santri diajak untuk terus menumbuhkan kesadaran ruhani dalam kehidupan sehari-hari.
Khotmil Qur’an dan Arwah Jama’ ini menjadi bukti bahwa tradisi pesantren tidak hanya menjaga warisan keilmuan, tetapi juga merawat nilai-nilai doa, penghormatan kepada pendahulu, serta kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.















