Sejarah manusia sering kali terjebak dalam hitam dan putih. Kita mudah melabeli seseorang sebagai “Pahlawan Suci” atau “Penjahat Keji”. Namun, di antara lembaran-lembaran tebal tarikh Islam, terselip satu nama yang menolak untuk dikurung dalam satu warna. Ia adalah Hindun binti Utbah. Kisah hidupnya adalah sebuah anomali. Bagaimana mungkin wanita yang bibirnya pernah ternoda oleh darah Hamzah, pada akhirnya justru wafat dengan Husnul Khotimah? Perjalanan Hindun bersama suaminya, Abu Sufyan, adalah bukti paling dramatis bahwa hidayah Allah itu laksana air bah: ia mampu menjebol benteng hati yang paling keras sekalipun.
Mari kita putar waktu ke belakang, ke tengah panasnya Padang Uhud yang berdebu. Dengan amarah yang berapi-api ia berdiri tanpa gentar. Hindun dengan berani menyerang umat islam dan membalaskan dendamnya. Ia bukan sekadar seorang istri bangsawan Quraisy; ia adalah personifikasi dari ledakan amarah.
Perang Badar telah merenggut segalanya. Ayah, paman, dan saudara kandungnya tewas dalam satu hari. Rasa kehilangan itu bermutasi menjadi kebencian yang mengerikan terhadap satu nama, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Luka itu menganga lebar, mengubah kesedihan menjadi obsesi yang mengerikan. Dalam catatan Ibnu Hisham di Sirah Nabawiyah, digambarkan betapa Hindun menjanjikan seluruh perhiasan emas yang menempel di tubuhnya kepada Wahsyi, seorang budak Abisinia milik Jubair bin Muth’im, jika tombaknya berhasil menembus dada Hamzah bin Abdul Muthalib.
Ketika Hamzah akhirnya rubuh, apa yang dilakukan Hindun melampaui batas kemanusiaan. Dalam euforia kegilaan. Ia merusak dan memutilasi jasad kekasih Nabi, merobek dan merenggut organ jantungnya dan mencoba mengunyahnya. Namun, daging itu terasa getir dan keras sehingga Hindun memuntahkannya, seolah jantung suci itu menolak untuk ditelan tubuh yang penuh kemurkaan. Momen mengerikan ini mengukuhkan posisinya sebagai wanita paling dimurkai di langit dan bumi saat itu.
Waktu bergulir hingga tahun ke-8 Hijriah. Mekkah, kota yang bermakna bagi umat islam, akhirnya bertekuk lutut. Pasukan Islam masuk bagaikan ombak yang tenang namun menghanyutkan. Di dalam rumahnya yang megah, Hindun dicekam teror. Suaminya, Abu Sufyan benteng terakhir kebanggaannya telah menyerah. Abu Sufyan kembali ke tengah kaumnya dan berteriak dengan suaranya lantang, “Wahai sekalian orang Quraisy! Ini Muhammad datang kepada kalian dengan pasukan yang kalian tidak akan mampu melawannya. Siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan maka ia aman!”, Hindun meledak marah, bahkan menjambak jenggot suaminya di depan umum seraya berkata, “Kalian bunuhlah orang yang gemuk, berlemak, dan banyak dagingnya ini. la adalah seburuk-buruk pengintai!”, menolak kenyataan bahwa era keberhalaan telah tamat.
Namun, malam itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Dari balik jendela, ia melihat ribuan Sahabat Nabi shalat mengelilingi Ka’bah. Tidak ada jarahan, tidak ada pembantaian, hanya keheningan sujud yang agung. Hati batunya mulai retak. Logikanya berbisik: Jika Muhammad pendendam sepertiku, leherku pasti sudah putus hari ini. Tapi nyatanya, ia masih bernapas. Dalam keheningan rumahnya, Hindun mengambil kapak. Ia berjalan menuju berhala kayu yang selama ini ia rawat dengan minyak wangi terbaik. Dengan air mata yang mungkin bercampur antara sesal dan marah, ia menghantamkan kapak itu hingga berhala tersebut hancur berkeping-keping. “Sudah lama sekali aku tertipu olehmu!” teriaknya. Detik itu, tuhan lamanya mati, dan benih iman mulai tumbuh.
Prosesi masuk Islamnya Hindun adalah salah satu adegan paling “berwarna” dalam hadits. Ia datang berbaiat dengan wajah tertutup rapat, takut dikenali sebagai pembunuh Hamzah. Ketika ia membuka identitasnya, ketegangan menyeruak. Namun, yang keluar dari mulutnya adalah pengakuan yang jujur dan puitis: “Wahai Rasulullah, dulu, tidak ada kemah di muka bumi yang paling aku harapkan kehancurannya selain kemahmu. Namun hari ini, demi Allah, tidak ada kemah yang paling aku cintai keberadaannya melebihi kemahmu.” Rasulullah SAW memaafkannya. Dan di sinilah uniknya Hindun; rasa takutnya hilang berganti dengan sifat aslinya yang ceplas-ceplos. Di hadapan Nabi yang agung, ia justru curhat masalah rumah tangga!
Jika kisah ini berhenti di sini, itu sudah indah. Tapi Hindun ingin lebih. Ia merasa lidahnya yang dulu tajam mencaci Islam harus dibayar lunas. Kesempatan itu datang bertahun-tahun kemudian, di masa Khalifah Umar bin Khattab, di Lembah Yarmuk. Pasukan Romawi yang bagaikan lautan baja mendesak pasukan Muslim. Kemenangan tampak mustahil. Mental para prajurit goyah; beberapa mulai memutar kuda untuk lari. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan wanita yang memecah kepanikan. Itu Hindun.
Hindun, yang rambutnya kini telah memutih, mencabut tiang tenda. Ia berdiri menghadang prajurit laki-laki yang lari. Ia memukuli wajah kuda-kuda mereka sambil berteriak lantang: “Kalian mau lari kemana?! Kalian mau menyerahkan kami, para wanita ini, kepada orang-orang Romawi?! Kembali ke medan perang atau mati syahid!” Singa betina yang dulu mengaum untuk berhala, kini mengaum untuk Allah. Semangat pasukan terbakar kembali oleh keberanian wanita tua itu. Yarmuk pun menjadi saksi kemenangan Islam, dan Hindun menjadi saksi bahwa masa lalunya telah lunas terbayar.
Kisah Hindun binti Utbah mengajarkan kita sebuah pelajaran mahal: Masa lalu seseorang, sekelam apa pun lorongnya, bukanlah vonis akhir. Hidayah Allah tidak mengenal kata terlambat. Ia yang pernah menelan kepahitan dendam, akhirnya mengecap manisnya iman. Hindun membuktikan bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk dilembutkan oleh cinta Sang Pencipta.
Referensi
- Ibnu Hisham. (2000). Sirah Nabawiyah. (Terjemahan Fadhli Bahri). Jakarta: Darul Falah.
- Adz-Dzahabi, Syamsuddin. (2009). Ringkasan Siyar A’lam an-Nubala (Tokoh-tokoh Besar Islam). Jakarta: Pustaka Azzam.
- Ibnu Katsir. (2004). Al-Bidayah wan Nihayah (Masa Khulafaur Rasyidin). Jakarta: Pustaka As-Sunnah.














