• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Minggu, Januari 25, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

oleh: Roihanah Nafi’ah (Santri Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin)

Iffah Arabia by Iffah Arabia
Desember 4, 2025
in Akhlak, Artikel
Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Tajul Arus: Mudharat Maksiat

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0

Jika dulu gema dakwah santri bergema dari menara masjid dan pondok pesantren, kini gema itu menjelajah ruang digital melalui gawai dan media sosial. Di era ini, santri tidak lagi hanya dikenal dengan belajar kitab kuning dan halaqah, tetapi juga dengan kemampuan mereka beradaptasi dalam masyarakat digital yang dinamis. Kehadiran platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube mengubah cara generasi muda belajar, berinteraksi, dan menyebarkan pesan keagamaan. Tantangan besarnya adalah bagaimana santri tetap eksis dan progresif sambil mempertahankan semangat dakwah (ghirah) di tengah derasnya arus teknologi?

Banyak pesantren di Indonesia mulai mengadopsi sistem digital untuk administrasi, pembelajaran, dan dakwah daring. Sementara itu, literasi digital di kalangan santri dan pesantren mendapat perhatian serius agar transformasi teknologi tidak mengikis nilai keagamaan. Sebagaimana hasil penelitian oleh Raharjo (2024) yang menunjukkan bahwa media digital menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi santri dalam pembentukan literasi keagamaan di pesantren tradisional.

Progresifitas dalam pendidikan berarti sikap adaptif dan inovatif terhadap perubahan sosial dan teknologi. Dalam pendidikan Islam, ini berarti memadukan tradisi dan modernitas secara kreatif. Menurut Zubaedi (2017), progresif dalam konteks pesantren mencakup inovasi dalam pembelajaran, pengembangan kompetensi, dan penguatan karakter santri. Santri progresif adalah mereka yang tetap menjaga nilai pesantren, namun terbuka terhadap inovasi dalam pembelajaran, dakwah, dan pengembangan kesejahteraan mereka.

Ghirah secara bahasa berarti semangat atau gairah dalam melakukan kebaikan. Dalam konteks santri, ghirah adalah dorongan hati yang kuat untuk belajar, berdakwah, dan berkontribusi positif di masyarakat (Setiawan,2022). Semangat ini kini diarahkan tidak hanya di majelis ilmu secara tatap-muka, tetapi juga di ruang digital melalui konten inspiratif dan edukatif. Adapun Masyarakat digital adalah lingkungan sosial di mana interaksi, aktivitas ekonomi, budaya, dan pendidikan banyak berlangsung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Di dalamnya, literasi digital menjadi kunci agar individu dapat berpartisipasi secara efektif. Bagi santri, ruang digital adalah ladang dakwah baru yang menjanjikan sekaligus berisiko. Media sosial memungkinkan jangkauan dakwah lebih luas, namun juga dapat membawa konten negatif dan disinformasi. Oleh karena itu, literasi digital dan etika online menjadi kewajiban moral bagi setiap santri.

Eksistensi santri progresif tercermin dalam berbagai inisiatif di berbagai pesantren modern:

  1. Pembentukan Unit Kreatif Digital: pesantren yang mengelola video dakwah, podcast, infografik edukatif dan live streaming pengajian.
  2. Pelatihan Literasi Digital dan Etika Online: santri dilatih memahami algoritma media sosial, memverifikasi informasi, dan menangkal hoaks. Contoh implementasi: program penguatan literasi media digital di pesantren tradisional
  3. Kolaborasi dengan Komunitas dan Startup: pengembangan kanal edukasi keagamaan daring, e-learning kitab kuning, dan platform kreatif berbasis pesantren.
  4. Pendekatan Kreatif ke Generasi Muda: konten dakwah yang akrab bagi anak muda, seperti Reels, TikTok, atau Podcast ringan namun bermakna.
  5. Kegiatan Sosial Berbasis Digital: mentoring daring, kajian interaktif online, komunitas diskusi digital, dan live streaming dakwah.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa santri tidak kehilangan akar tradisinya, tetapi justru memperluas jangkauan dakwahnya melalui inovasi digital tanpa mengorbankan nilai keislaman.

Dalam melaksanakan dakwah dan tetap progresif di era digital, santri tidak hanya mengandalkan kreativitas dan literasi digital. Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas bagi setiap Muslim, sehingga setiap langkah dan konten dakwah yang disampaikan tetap selaras dengan nilai-nilai agama. Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran Ayat 104 yang berbunyi:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Menurut Ibnu Katsir meski ayat ini menekankan keberadaan kelompok khusus, kewajiban amar makruf dan nahi munkar sesungguhnya berlaku bagi setiap Muslim sesuai kemampuan dan kapasitasnya. Orang-orang yang melaksanakan tugas ini disebut sebagai al-mufliḥūn, yakni mereka yang beruntung, meraih kesuksesan baik di dunia maupun akhirat.

Ada hal yang tidak kalah penting yaitu dakwah bukan hanya sekadar menyampaikan pesan kepada orang lain, tetapi juga menekankan bagaimana pesan itu disampaikan dengan cara yang baik dan penuh adab. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl Ayat 125 yang berbunyi:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk”

Menurut tafsir Ibnu Katsir, hikmah mencakup metode ajakan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta disesuaikan dengan keadaan orang yang diajak, sedangkan pengajaran yang baik berarti memberi nasihat dengan cara yang lembut, inspiratif, dan penuh contoh. Bahkan dalam berdialog dan berargumentasi, ayat ini menekankan pentingnya menggunakan kata-kata yang paling baik, lemah lembut, dan santun. Prinsip-prinsip ini sangat relevan bagi santri yang melakukan dakwah di era digital; meskipun menggunakan gawai, media sosial, atau platform daring, cara penyampaian pesan tetap harus memperhatikan adab, hikmah, dan etika Islam. Dengan demikian, santri dapat memadukan progresifitas teknologi dengan ghirah dakwah, menebarkan kebaikan secara efektif tanpa mengurangi nilai moral dan spiritual.

Menurut Hidayat (2020) kehadiran santri yang progresif dan beretika inilah yang kemudian tercermin dalam eksistensi mereka sehari-hari, yang dapat dianalisis melalui beberapa dimensi utama, yaitu sebagai berikut:

  • Identitas: menjaga tradisi pesantren yakni belajar kitab kuning, halaqah, adab pesantren sebagai fondasi yang tak boleh diabaikan.
  • Adaptasi: memanfaatkan media digital untuk pendidikan dan dakwah; menyesuaikan format dan metode agar relevan dengan zaman namun tetap berbasis nilai.
  • Kontribusi Sosial: menjadi agen literasi digital yang menyaring hoaks, mengedukasi masyarakat, dan membangun komunitas produktif di ruang digital.

Dengan landasan iman, ilmu, dan teknologi yang bertanggung jawab, santri dapat hadir sebagai penjaga moralitas di ruang maya  bukan sekadar pengguna, tetapi pengarah media digital.

Santri progresif bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menghidupkannya di tengah zaman yang berubah. Mereka memadukan nilai klasik pesantren dengan semangat inovasi digital, menjadikan gawai bukan hanya alat hiburan, tetapi sarana dakwah yang efektif dan bertanggung jawab. Dengan ghirah yang tulus, santri masa kini mampu menyebarkan cahaya Islam yang moderat, bijak, dan beradab di dunia maya maupun nyata.

 

Referensi:

Ahmad, I., & Mukhroman, I. (2024). Penguatan literasi media digital di pesantren tradisional Al Fathaniyah Kota Serang: Membangun generasi melek teknologi dengan nilai keislaman. Jurnal Akademik Pengabdian Masyarakat, 2(6), 236–246.

Haris, M. A. (2022). Urgensi digitalisasi pendidikan pesantren di era Society 5.0: Peluang dan tantangannya di Pondok Pesantren Al-Amin Indramayu. Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(2), 49

Hidayat, R. (2020). Eksistensi Santri dalam Pendidikan Islam: Spiritualitas, Sosial, dan Akademik. Jurnal Pendidikan Islam, 5(2), 112-125.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah

Munji, A. (2024). Penggunaan media digital dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam: Perspektif studi pustaka. Adz-Zikr: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 8(2), 16–23.

Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Raharjo, N. P. (2024). Peran media digital dalam pembentukan literasi keagamaan santri di Indonesia. Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam, 5(2), 285–303.

Setiawan, N., & Khiyaroh. (2022). Urgensi dan strategi dakwah santri di era digitalisasi. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 7(2), 45–52.

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0
Source: Roihanah Nafi'ah
Via: Iffah Arabia
Tags: Dakwah era digitalghirahsantriprogresif
Previous Post

Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Next Post

Isra’ Mi’raj

Iffah Arabia

Iffah Arabia

Related Posts

Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Mudharat Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Dosa kecil dan Dosa Besar

Desember 17, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Siapa mau Membeli Daganganku?

Desember 17, 2025
Please login to join discussion

Recommended

93 Tahun Mengabdi Untuk Bumi Pertiwi

93 Tahun Mengabdi Untuk Bumi Pertiwi

Juni 3, 2020
Ibnu Atha’illah as-Sakandari

Ibnu Atha’illah as-Sakandari

Juni 27, 2023

Don't miss it

Majlis Mujahidin Indonesia
Pengetahuan Islam

Majlis Mujahidin Indonesia

Juni 4, 2020
Awan Cumulonimbus Dalam Al-Quran
Islam dan Sains

Awan Cumulonimbus Dalam Al-Quran

Juni 4, 2020
Artikel

Pendidikan dalam Perspektif Islam

Oktober 27, 2018
Hikmah & Muhasabah

KAU BILANG TAK ADA WAKTU?

Oktober 27, 2018
Reformasi 1: Pemurnian Islam (Wahabisme)
Pengetahuan Islam

Reformasi 1: Pemurnian Islam (Wahabisme)

Juni 3, 2020
Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global
Akhlak

Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global

Desember 4, 2025

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak Amin Syukur cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Kesabaran kisah sufi Literasi maulid nabi Maulud Muhammad nafs NKRI NU pendidikan karakter renungan Rohis sains Sains islam Sejarah sejarah islam sirah Nabawi solusi spiritualitas beragama sufi tafsir tafsir kontekstual Tajul Arus Taqwa tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Tajul Arus: Terhalang dari Munajat

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Desember 18, 2025

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

 
Pelajaran dari Uhud
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend