Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada Rasulullah SAW setelah melalui berbagai ujian dakwah yang berat. Beliau kehilangan dua sosok terpenting dalam hidupnya: istrinya, Khadijah dan pamannya, Abu Talib. Keduanya wafat pada tahun yang sama, yaitu tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai ‘Am al-Huzn atau Tahun Kesedihan. Sebelumnya, Rasulullah SAW dan Bani Hasyim juga mengalami pemboikotan selama tiga tahun, hidup di lembah dalam keadaan kelaparan dan kesulitan.
Setelah wafatnya Abu Talib, Bani Hasyim dipimpin oleh Abu Lahab yang segera mencabut perlindungan politik kepada Nabi saw. Sejak itu beliau mengalami perlakuan kasar secara fisik hingga ancaman pembunuhan dari suku-suku Jahiliyah yang menolak dakwahnya. Upayanya untuk mencari perlindungan ke Thaif justru dijawab dengan pelecehan dan perundungan dari masyarakatnya.
Dalam kondisi tekanan fisik dan emosional yang sangat berat itu, Allah menurunkan rahmat-Nya dengan sebuah anugerah yang belum pernah dialami oleh nabi-nabi mana pun sebelumnya, yaitu Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini menjadi penghiburan sekaligus penguatan untuk Rasulullah SAW, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan, dan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Saat itu kaum Quraisy dan suku-suku lainnya mengejek, mengancam, bahkan menyiksa para pengikut Nabi. Di tengah kondisi umat yang lemah secara sosial dan politik, Allah meneguhkan hati Nabi dengan perjalanan suci ini. Pada masa itu, kewajiban shalat lima waktu belum ditetapkan. Shalat hanya dilakukan dua kali sehari tanpa ketentuan rakaat. Hal ini terbukti ketika para pemimpin Quraisy meminta Abu Talib menghentikan dakwah keponakannya, Rasulullah hanya meminta mereka untuk meninggalkan berhala dan mengakui keesaan Allah, tanpa menyebut shalat. Maka kewajiban shalat lima waktu ditetapkan sebagai oleh-oleh dari Mi’raj.
Allah menetapkan shalat pada saat umat Islam sedang dalam kondisi sangat lemah. Hikmahnya, shalat menjadi pondasi spiritual untuk menguatkan jiwa para sahabat dan sebagai bekal menghadapi masa depan Islam. Selain itu, Isra’ dan Mi’raj juga menjadi bukti pengokoh kenabian Rasulullah. Beliau diperlihatkan Baitul Maqdis sehingga mampu menggambarkannya kepada Quraisy sebagai tanda kekuasaan Allah. Peristiwa ini terjadi sekitar satu tahun sebelum Hijrah, pada bulan Rajab tahun ke-13 kenabian. Dengan demikian, Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi juga bentuk persiapan ilahi bagi umat Islam untuk memasuki fase perjuangan baru di Madinah.
Perjalanan Suci
Perjalanan Isra’ dan Mi’raj dimulai dengan penyucian dada Nabi Muhammad SAW, ketika hatinya dicuci dengan air Zam-zam dan diisi dengan iman serta hikmah sebagai persiapan spiritual. Setelah itu, beliau dibawa dari rumah Umm Hani ke Masjidil Haram dan menaiki Buraq menuju Masjid Al-Aqsa. Di sana beliau shalat dua rakaat dan menjadi imam bagi para nabi. Jibril membawa bebeapa minuman, beliau lalu memilih bejana berisi susu sebagai simbol fitrah. Selanjutnya perjalanan Mi’raj ke tujuh dimensi langit dilaksanakan. Bertemunya Nabi saw dengan arwah para nabi sebelumnya, mulai dari Adam hingga Ibrahim sebagai bentuk pengakuan atas kedudukan beliau sebagai penutup para nabi. Di langit tertinggi, beliau mencapai Sidratul Muntaha, tempat Malaikat Jibril berhenti karena tidak mampu melampaui batas tersebut.
Setelah tiba di Hadrat Ilahiah, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT. Awalnya sebanyak lima puluh waktu. Atas saran Nabi Musa, Beliau saw memohon keringanan hingga akhirnya shalat ditetapkan menjadi lima waktu saja, namun tetap bernilai pahala lima puluh kali lipat. Oleh-oleh Mi’raj ini menjadi penegasan pentingnya shalat sebagai ibadah utama dan penghubung antara hamba dan Tuhannya.
Peristiwa Isra’ segera menjadi bahan gunjingan di Makkah sekaligus menguji keimanan umat islam. Kaum Quraisy yang kafir menolak keras peristiwa ini karena dianggap mustahil dilakukan dalam satu malam. Tokoh seperti Mut‘im bin ‘Adi dan Abu Jahal mengejek Nabi dan mengumpulkan orang-orang untuk memperolok kisah tersebut. Sebaliknya, bagi kaum Muslimin, peristiwa ini justru memperkuat keimanan mereka. Abu Bakr Ash-Shiddiq membenarkan Nabi SAW tanpa ragu sedikit pun, sehingga mendapatkan gelar Ash-Shiddiq karena keteguhan imannya. Peristiwa ini sekaligus memisahkan antara orang yang benar-benar beriman dan yang imannya lemah, bahkan ada yang murtad karena tidak mampu menerima kejadian di luar logika manusia.
Allah SWT mengabarkan peristiwa ini dalam surah Al-Isra’ ayat 1. ‘Subhana’ menjadi kata pembuka ayat untuk menunjukkan sesuatu yang menakjubkan dan mengherankan, karena terjadinya sangat di luar kebiasaan yang selama ini dikenal manusia. Saat itu untuk menempuh perjalanan PP dari Makah ke Palestina dengan unta dibutuhkan waktu 2,5 bulan. Saat ini dengan mobil dibutuhkan waktu 15 jam. Pesawat tercepat supersonik membutuhkan waktu tempuh 45 menit. Namun dengan kendaraan Buraq yang berkecepatan cahaya, Nabi saw hanya membutuhkan waktu 0,01 detik saja.
Hikmah Isra’ Mi’raj
- Ujian Keimanan
Peristiwa ini menjadi ujian keimanan sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 2–3: “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan mengatakan ‘Kami beriman’ padahal mereka belum diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah akan mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta.” Karena itu, setelah Isra’ dan Mi’raj, masyarakat terbelah menjadi dua kelompok: Quraisy yang menolak kebenaran dan umat islam yang imannya semakin kuat. Peristiwa ini menjadi barometer iman yang sangat jelas dalam sejarah Islam.
- Pertolongan akan datang setelah melalui puncak kesulitan
Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan kami, lalu diselamatkan orang2 yang kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa kami dari pada orang2 yang berdosa.(QS. Yusuf : 110)
- Nabi Muhammad telah mencapai kualitas manusia tertinggi.
Puncak tertinggi yang dapat dicapai seseorang adalah menjadi hamba Allah (‘Abdihi’). Yakni seseorang yang telah berhasil meniadakan egonya, sehingga yang ada di hatinya hanya Allah semata (la ilaha illa llah). Seorang hamba tidak memiliki sesuatu, apa yang dimilikinya adalah milik tuannya. Dia adalah anak panah yang melesat untuk tujuan yang dikehendaki oleh majikannya, pada saat yang sama mampu memberikan aroma yang harum bagi lingkungannya.
- Meyakini informasi al-Qur’an tentang alam ghaib
Pada perjalanan Mi’raj Nabi saw mengunjungi alam Barzah dan bertemu dengan arwah para Nabi. Beliau juga mengunjungi neraka dan berjumpa Malaikat Malik yang tidak pernah tersenyum. Tinggal Bersama penghuni surga dan menyaksikan aneka kenikmatan di dalamnya. Melihat Baitul Makmur, Ka’bah Penduduk langit yang berada di langit ke-7. Setiap saat 70 ribu malaikat berthawaf secara bergantian. Beliau telah menyaksikan tanda Kekuasaan Allah yang paling besar.
Pengalaman spiritual ini menghadirkan puncak keimanan pada diri Nabi. Informasi dari wahyu mendatangkan Ilmul yaqin, dengan terlibat secara langsung melahirkan Ainul yaqin hingga Haqqul Yaqin. Kita sebagai umatnya yang mendapatkan informasi tentang alam ghaib dari beliau juga lebih yakin akan kebenarannya, sebab penjelasan tersebut datang dari seseorang yang pernah menyaksikannya secara langsung.
Daftar Pustaka
Al-Haris, Abdul. (2015). Tafsir Tentang Peristiwa Isra’ Mi‘raj. Tajdid, Vol. XIV, No. 1.
Ash-Shallabi, Muhammad Ali. (2012). Sejarah Lengkap Rasullah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Jamora Nasution, Gani Abdul, dkk. (2022). Narasi Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Buku SKI di MI. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan, Vol. 1, No. 3.
Quraish Shihab, Muhammad. (2011). Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW. Tangerang: Lentera Hati.
Quraish Shihab, Muhammad. (2012). Tafsir al-Misbah volume 7: Lentera Hati













