• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Selasa, April 14, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Pancasila Mengurai Krisis Kebangsaan

Nanang Qosim by Nanang Qosim
Oktober 27, 2018
in Artikel

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0

Beragam persoalan kebangsaan yang terus hadir di hadapan kita, seperti granat yang meluluh lantakkan kekuatan negeri ini. Korupsi, kekerasan, ketidakadilan, diskriminasi, kemiskinan, pegangguran, dan segenap persoalan bangsa lainnya terus diproduksi setiap hari, sehingga bangsa ini seperti kehilangan pijakan hidup.

Pancasila sebagai dasar kebangsaan telah tenggelam bersama kemelut kepentingan elit politik dan kapitalisme. Impian besar kebangsaan seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 untuk menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur hanya bayangan semu.

Hingga kini negara kita berjalan terseok-seok akibat persoalan yang sengaja dicipta oleh bangsanya sendiri. Kemerdekaan dulu yang diimpikan founding fathers, sekarang banyak dikhianati bangsanya sendiri. Buktinya, bangsa kita telah melupakan Pancasila sebagai falsafah hidup yang mestinya menjadi spirit nilai dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Korupsi tidak mugkin terjadi bila bangsa ini mengamalkan keyakinannya sebagai manusia yang berketuhanan Yang Maha Esa. Tidak ada satu ajaran agama pun yang menganjurkan umatnya mencuri uang negera. Semua agama melarang perbuatan itu, karena sangat nyata tindakan itu merugikan negara dan rakyatnya.  Sedangkan kehadiran agama ke dunia sebagai jalan bagi terwujudnya keadilan dan kemakmuran hidup manusia. Sehingga manusia bisa hidup tenang dan damai.

Begitupun dengan sila-sila yang lain, kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah gambaran manusia ideal yang mendasarkan tindakannya pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, maka sangat tidak mungkin manusia yang berkeadilan dan berkemanusiaan, melakukan tindakan korupsi. Begitupun dengan manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan Indonesia, tidak mungkin melakukan tindakan korup, karena hal seperti itu akan meretakkan ikatan kebangsaan.

Pemimpin yang bijaksana seperti amanat sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, tidak akan melakukan tindakan korupsi. Pemimpin yang bijaksana akan mendasarkan tindakannya pada nilai-nilai agama, keadilan, dan kemanusiaan. Korupsi secara nyata melanggar nilai-nilai agama, keadilan, dan kemanusiaan.

Maka sila kelima sebagai impian besar kebangsaan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan menjadi spirit kebangsaan bagi rakyat Indonesia yang sadar makan kemerdekaan, sehingga sangat tidak mungkin jika sila ini diamalkan akan ada pelanggaran korupsi. Begitupun dengan kasus-kasus yang lain, kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, kemiskinan, dan pengangguran itu terjadi karena bangsa ini tidak mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Seandainya Pancasila diamalkan mustahil persoalan-persoalan itu akan muncul ke permukaan.

 

 

Akar Persoalan 

Akar dari semua persoalan itu adalah kepentingan, tidak ada manusia di dunia ini yang hidup tanpa kepentingan. Kepentingan yang membentuk manusia “menjadi” sesuai keinginan dirinya. Karena kepentingan inilah kemudian manusia banyak berbuat destruktif. Filsuf Thomas Hobbes misalnya menggambarkan manusia sebagai homo homini lupus! (manusia adalah serigala bagi sesamanya).

Manusia menjadi serigala bagi sesamanya sehingga berbuat tindakan destruktif, seperti korupsi, kekerasan, diskriminasi, dan ketidakadilan karena didorong oleh kepentingan diri atau kelompok. Kepentingan telah mendorong manusia berbuat destruktif. Tetapi, meski demikian bukan berarti manusia tidak boleh memiliki kepentingan. Karena kepentingan adalah kodrat dasar dari seorang manusia, maka jalan kita sekarang ini adalah bagaimana bisa menempatkan kepentingan secara proporsional sehingga tidak merugikan orang lain.

Selama ini kita disesaki dengan beragam tindakan destruktif seperti korupsi yang berakar dari kepentingan pribadi ataupun kelompok. Sajian berita korupsi setiap hari tidak pernah absen. Sudut-sudut lembaran media selalu disesaki berita korupsi pejabat negara. Bahkan PKS sekalipun yang nyata-nyata sering menggembor-gemborkan pemberlakuan syariat Islam, sekarang ini para petingginya banyak diseret KPK karena ditengarai melakukan tindakan korupsi.

Ironis memang. Korupsi sekarang tidak memilah-milih partai agama atau partai nasionalis, semua kadernya ada yang terseret kasus korupsi. Mereka telah terjebak dengan kepentingan jangka pendek untuk memperkaya diri dan partainya, akibatnya sekarang malah memperburuk citra partainya. Maka sangat mungkin, pada Pemilu berikutnya akan kehilangan banyak konstituen.

 

Harapan Besar

Di atas segalanya, termasuk kepentingan pribadi dan partai, negara ini berdiri atas dasar semangat kebangsaan demi kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran segenap rakyat Indonesia dari ujung Sabang-Sampai Merauke dan dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Karena itulah, kepentingan apapun, termasuk kepentingan memperkaya diri dan kelompok harus ditanggalkan, sebab kita memiliki impian besar memakmurkan segenap rakyat Indonesia.

Korupsi sangat nyata merupakan penghambat besar bagi terwujudkan kemakmuran rakyat Indonesia. Maka cara proporsional mewujudkan kepentingan adalah dengan cara-cara yang dibenarkan dalam hukum agama dan negara, seperti berbisnis atau mengembangkan pertanian jika ingin kaya-karya, kalau korupsi jelas dilarang dari kedua sumber hukum itu.

Seseorang yang hendak memperkaya diri bukan dengan cara menjadi pejabat negara, karena tidak mungkin seseorang akan bisa memperkaya diri dengan menjadi pejabat negara, kecuali dengan cara korupsi. Pejabat negara bertugas melayani rakyat dan mengupayakan kemakmurannnya. Tidak mungkin mereka bisa memperkaya diri, sebab mereka tidak mengurus kepentingan dirinya, melainkan mengurusi kemakmuran semua rakyat Indonesia.

Begitupun dengan kepentingan-kepentingan yang lain yang memunculkan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, seperti kepentingan ingin berkuasa, ingin banyak pemeluk agama ataua mazhabnya, ingin bebas dari hukuman, dan bentuk-bentuk kepentingan lainnnya jangan sampai semua itu membuat kita buta kepentingan bersama yakni mewujudkan kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Falsafah Pancasila telah menyediakan nilai-nilai dasar kebangsaan yang mestinya menjadi spirit tindakan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya, sehinga impian besar terwujudnya kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran bangsa Indonesia benar-benar tercapai.

 

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0
Tags: KebangsaanPancasila
Previous Post

Literasi tentang “Ma Lima”

Next Post

Melacak Doktrin Kafa’ah dalam Pernikahan

Nanang Qosim

Nanang Qosim

Penulis Lepas, Dosen UIN Walisongo Semarang, Guru PAI dan Budi Pekerti SMAN 15 Semarang, Pengurus DPD AGPAII Kota Semarang, Pengurus MGMP PAI SMA Kota Semarang, Pengurus ISNU Kab. Demak, Pengurus LTN NU Kota Semarang, Mantan Redaktur Jurnal EDUKASI UIN Semarang. Pengajar di PP. Darul Falah Be-Songo Semarang.

Related Posts

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah
Akhlak

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Desember 4, 2025
Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia
Akhlak

Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Desember 4, 2025
Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global
Akhlak

Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global

Desember 4, 2025
Aktualisasi Cinta Rasul sebagai Paradigma Etika dan Kepemimpinan Kontemporer
Artikel

Aktualisasi Cinta Rasul sebagai Paradigma Etika dan Kepemimpinan Kontemporer

Desember 4, 2025
Akhlak Rasulullah sebagai Cermin Cinta: Menumbuhkan Generasi Beradab di Era Digital
Artikel

Akhlak Rasulullah sebagai Cermin Cinta: Menumbuhkan Generasi Beradab di Era Digital

November 25, 2025
Please login to join discussion

Recommended

NEGARAWAN ATAU POLITIKUS

November 1, 2018
Tasawuf Prof. Amin Syukur

Pemikiran Gender Fatimah Usman (Dari Wacana Menuju Aksi)

Agustus 16, 2025

Don't miss it

Perintah Rasulullah Untuk Menanam Pohon
Islam dan Sains

Perintah Rasulullah Untuk Menanam Pohon

Juni 4, 2020
Ekonomi ‘Syariah’ atau Kerakyatan ?
Artikel

Ekonomi ‘Syariah’ atau Kerakyatan ?

Juni 3, 2020
HUDAYBIYAH
Pengetahuan Islam

HUDAYBIYAH

Oktober 29, 2023
Taubat dan Ketenangan Jiwa
Agama

Taubat dan Ketenangan Jiwa

Oktober 2, 2021
Panggilan Haji
Akhlak

Panggilan Haji

April 13, 2021
ABRAHAH
Pengetahuan Islam

ABRAHAH

Juni 4, 2020

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah hukum Humor Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Kesabaran kisah sufi Man 2 Semarang maulid nabi Nabi Ibrahim nafs NKRI pendidikan karakter Rohis sains Sains islam santriprogresif Sejarah sejarah islam sholat khusyu' sirah Nabawi siroh spiritualitas beragama sufi tafsir tafsir kontekstual Tajul Arus Taqwa tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Maret 17, 2026
Puncak Haul Pendiri Pesantren Fathimah Al-Amin Dipadati Jamaah, Keteladanan Zuhud Kembali Dihidupkan

Puncak Haul Pendiri Pesantren Fathimah Al-Amin Dipadati Jamaah, Keteladanan Zuhud Kembali Dihidupkan

Maret 17, 2026

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Literasi tentang “Ma Lima”

Pancasila Mengurai Krisis Kebangsaan

 
Pendidikan dalam Perspektif Islam
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend