• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Selasa, April 14, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Literasi tentang “Ma Lima”

Nanang Qosim by Nanang Qosim
Oktober 27, 2018
in Artikel

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0

“MA LIMA” singkatan dari maling (mencuri), madon (melacur), main (berjudi), mateni (membunuh), dan madat (minuman keras, ganja, narkoba, sabu-sabu). Sebuah rambu-rambu yang lahir dari kearifan para leluhur bangsa tempo dulu. Mengandung peringatan agar menjauhi semua itu. Jangankan melanggar kelima-limanya sekaligus, mencoba mengerjakan satu saja, bahaya besar sudah menghadang. Dampak berkepanjangan akan datang menerkam.

Tapi sekarang, Ma Lima tampaknya sudah tidak dianggap lagi. Sudah menjadi fosil berdebu di tengah penonjolan sikap dan sifat hedonis, materialis serta pengumbaran hawa nafsu di berbagai tingkatan masyarakat. Mulai dari kelas jelata hingga kelas elite. Mulai dari perorangan hingga komunitas “terhormat”. Ma Lima sudah menjadi peristiwa sehari-hari yang dianggap lumrah.

Dulu maling dilakukan dengan cara membegal, merampok, dan mencuri. Pelakunya bergerombol. Rata-rata tidak berpendidikan. Bertampang kasar berotot kuat. Siang hari bersembunyi di gua-gua atau hutan-hutan yang jauh dari keramaian manusia. Mereka biasanya bergerak malam hari.

Sekarang maling berbentuk macam-macam. Korupsi, suap-sogok, tipu-menipu, gratifikasi, mark-up, dan lain sebagainya. Pelakunya tidak bergerombol, namun tetap terkait jaringan persekongkolan diam-diam.

Melacur juga, dulu begitu. Sembunyi-sembunyi. Hanya sekadar melepas syahwat seraya nama dan kedudukan tetap terhormat. Sekarang terang-terangan. Di kamar hotel. Di kolam renang. Dan didokumentasikan dengan foto atau video. Agar mengundang kesan jantan dan populer. Persetan dengan kecaman dari kiri kanan.

Main alias judi, dulu sekadar klangenan. Bagian dari kehidupan mapan berkat pangkat dan kedudukan. Sekarang segala sesuatu dianggap judi atau diperjudikan.

Mateni atau membunuh. Sudah ibarat sarapan pagi. Begitu membuka koran dan menyetel televisi, langsung disuguhi berita pembunuhan. Mulai dari pembunuhan berantai, pembunuhan di dalam koper, pembunuhan tak direncanakan, dan sebagainya dan sebagainya. Semuanya bersumber dari kerapuhan kepribadian manusia di tengah tekanan struktur ekonomi, politik, dan budaya.

Selain mateni yang berhubungan langsung dengan nyawa, ada juga mateni yang bercorak abstrak, namun berakibat sama. Bahkan mungkin lebih parah lagi. Yaitu pembunuhan kepercayaan, karakter, masa depan, dsb. dengan berbagai cara yang dianggap tidak melanggar hukum. Termasuk membunuh hati nurani sendiri agar tega melakukan apa saja demi keuntungan pribadi dan kroni.

Madat atau mengisap candu, dulu dikonsumsi secara terbatas oleh etnis tertentu dalam batasan usia tertentu dan pada tempat khusus yang disediakan dan diawasi ketat. Sekarang madat bebas leluasa. Para pelaku, tempat, cara, dan jenis madat terserah keinginan. Narkoba, ganja, sabu, dikonsumsi leluasa, di mana saja. Yang tertangkap, dijerat hukum yang tak minimbulkan jera. Yang tidak tertangkap, tenang-tenang saja. Mabuk tanpa terganggu. Hilang akal seenaknya.

Bahkan tanpa mengisap madat pun, orang-orang sekarang justru dapat mabuk. Mabuk kekuasaan. Mabuk kesempatan. Hilang akal waras. Hilang pikiran jernih. Sehingga dalam melakukan segala sesuatu tanpa perlu lagi merasa malu. Dapat melakukan persekongkolan jahat apa saja, kapan saja, di mana. Tanpa salah seorang pun merasa risi. Baik yang mengajak maupun yang diajak sudah tahu sama tahu untuk bersekongkol dan seolah-olah tidak tahu bahwa perbuatan semacam itu melanggar hukum. Anehnya, para penegak hukum ikut terlibat. Kasus Artalyta Suryani yang melibatkan aparat Kejaksaan Agung misalnya, dapat dijadikan salah satu contoh.

Apalagi yang diharapkan dari bangsa dan negara ini apabila Ma Lima plus kebohongan publik, sudah merebak ke setiap sendi kehidupan? Setiap tarikan napas, sesak pengap oleh Ma Lima dan kebohongan demi kebohongan yang dipamerkan di mana-mana. Termasuk di institusi-institusi resmi.

Jika sudah demikian, jangan salahkan ancaman azab Allah SWT yang sudah menggumpal di depan mata.

 

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0
Tags: Literasi
Previous Post

Menyelamatkan Siswa dari Racun Hoax

Next Post

Pancasila Mengurai Krisis Kebangsaan

Nanang Qosim

Nanang Qosim

Penulis Lepas, Dosen UIN Walisongo Semarang, Guru PAI dan Budi Pekerti SMAN 15 Semarang, Pengurus DPD AGPAII Kota Semarang, Pengurus MGMP PAI SMA Kota Semarang, Pengurus ISNU Kab. Demak, Pengurus LTN NU Kota Semarang, Mantan Redaktur Jurnal EDUKASI UIN Semarang. Pengajar di PP. Darul Falah Be-Songo Semarang.

Related Posts

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah
Akhlak

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Desember 4, 2025
Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia
Akhlak

Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Desember 4, 2025
Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global
Akhlak

Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global

Desember 4, 2025
Aktualisasi Cinta Rasul sebagai Paradigma Etika dan Kepemimpinan Kontemporer
Artikel

Aktualisasi Cinta Rasul sebagai Paradigma Etika dan Kepemimpinan Kontemporer

Desember 4, 2025
Akhlak Rasulullah sebagai Cermin Cinta: Menumbuhkan Generasi Beradab di Era Digital
Artikel

Akhlak Rasulullah sebagai Cermin Cinta: Menumbuhkan Generasi Beradab di Era Digital

November 25, 2025
Please login to join discussion

Recommended

Truth & Victory   

Truth & Victory  

Juni 4, 2020
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat

Tajul Arus: Dosa kecil dan Dosa Besar

Desember 17, 2025

Don't miss it

Artikel

Penting Buat Kamu Sob, Berpikir Kritis dan Bijaksana di Era Medsos

November 28, 2018
Hikmah & Muhasabah

Ah, Aku Memang Tak Pandai Membaca Kode

Oktober 27, 2018
Islam dan Budaya
Pengetahuan Islam

Islam dan Budaya

Juni 4, 2020
Kiriman Pembaca

PERLUNYA LITERASI MEDIA TV

November 2, 2018
Rahasia Malam Nisfu Sya’ban
Hukum

Rahasia Malam Nisfu Sya’ban

Juni 4, 2020
Hikmah & Muhasabah

Kompetisi Meditasi

Oktober 27, 2018

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah hukum Humor Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Kesabaran kisah sufi Man 2 Semarang maulid nabi Nabi Ibrahim nafs NKRI pendidikan karakter Rohis sains Sains islam santriprogresif Sejarah sejarah islam sholat khusyu' sirah Nabawi siroh spiritualitas beragama sufi tafsir tafsir kontekstual Tajul Arus Taqwa tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Maret 17, 2026
Puncak Haul Pendiri Pesantren Fathimah Al-Amin Dipadati Jamaah, Keteladanan Zuhud Kembali Dihidupkan

Puncak Haul Pendiri Pesantren Fathimah Al-Amin Dipadati Jamaah, Keteladanan Zuhud Kembali Dihidupkan

Maret 17, 2026

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Penting Buat Kamu Sob, Berpikir Kritis dan Bijaksana di Era Medsos

Literasi tentang "Ma Lima"

 
Pancasila Mengurai Krisis Kebangsaan
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend